The Miracle; Menjadi Kaya Dalam 40 Hari

The Miracle; Menjadi Kaya Dalam 40 Hari

Apakah Anda percaya bahwa keajaiban itu masih ada dan akan selalu ada? Keajaiban apa yang Anda butuhkan dalam kehidupan Anda? Menjadi kaya? Sembuh dari penyakit? Memiliki anak setelah sekian lama tidak punya anak? Rindu berjodoh berkeluarga? Keajaiban untuk anak? Untuk kerjaan? Bila percaya bahwa Allah itu ada, dan Allah itu Begitu Kuasa, maka insya Allah keajaiban itu selalu tersedia. Keajaiban akan didapatkan oleh siapa yang percaya keajaiban itu memang ada. Sedekah, dengan segala kekuatannya, menjadi tema sentral yang dibahas yang dibahas di Kajian The Miracle ini, di mana sedekah diyakini sebagai pengundang datangnya rzki. Namun pembahasan tentang sedekah ini berbeda. Berdasarkan pengalaman berinteraksi dengan sedekah, Yusuf Mansur menemukan sisi akademis yang mengagumkan dari konsep sedekah. Sisi akademis ini diungkap oleh Yusuf Mansur menjadi sebuah metode, menjadi sebuah sistem.

Dari sinilah keajaiban menjadi kaya dalam 40 hari peserta ditantang untuk membuktikannya. Al Qur’an diturunkan Allah sebagai sebuah petunjuk. Dan al Qur’an memuat petunjuk untuk manusia agar manusia bisa hidup senang, beruntung. Bila petunjuk al Qur’an diikuti, maka secara metodologis, kesuksesan akan menjadi sebuah langkah yang bisa terukur dan mudah dicapai. Insya Allah.

Dan meskipun bicaranya tentang kekayaan, disingung pula kekayaan lain yang tidak ada ukurannya. Yaitu kekayaan hati. Ditambah di seminar ini pun akan dihadirkan keajaiban-keajaiban lain yang tidak melulu soal kekayaan. Melainkan soal-soal lain macam jodoh, kerjaan, anak keturunan, ketenangan hati, permodalan, dan lain-lain. Insya Allah.

Sebagai kearifan, peserta akan diajak sharing untuk membicarakan perihal tauhid dan iman. Khususnya seputar rizki. Bahwa bukan usaha dan kerja manusia yang membuat manusia bisa beroleh rizki (baca: hidup kaya, senang, bahagia, sejahtera). Tetapi karena Allah mengizinkan manusia berusaha dan berikhtiar mencari dunia-Nya, dan memberikan kesempatan untuk menikmati apa yang dicarinya itu. ”Apakah mereka tidak mengetahui bahwasanya Allah lah yang melapangkan rizki dan menyempitkannya? Sesungguhnya yang demikian itu tanda-tanda kekuasaan Allah bagi mereka yang percaya.” (Qs. az Zumar: 52).

Tidak sedikit manusia yang Allah berikan dunia-Nya, tapi tidak Allah berikan kesempatan menikmatinya. Sedikit saja Allah cabut satu dari jutaan nikmat yang tidak berbilang, sudah akan membuat manusia kemudian menjadi tidak berdaya walau untuk sekedar mencicipi nikmat-Nya. Maka kemudian Allah bertanya, kenapa lalu kalian berpaling? ”Hai manusia, ingatlah akan ni’mat Allah kepadamu. Adakah Pencipta selain Allah yang dapat memberikan kamu rizki dari langit dan bumi? Tidak ada, kecuali itu semua Allah yang memberi. Tidak ada Tuhan selain Dia. Maka mengapakah kamu berpaling?”. (Qs. Faathir: 3).

Pada kehidupan sehari-hari, konsep tauhid dan iman bahwa rizki itu dari Allah, sering dilihat sebagai ”bukan kebenaran”. Kecuali setelah berinteraksi dengan satu dua pengalaman hidup. Ini disebabkan banyak orang yang merasa bahwa tanpa mereka dekat dengan Allah, tanpa ibadah yang baik, justru dunia sudah berada di genggamannya. Seakan-akan Allah sudah tidak diperlukan lagi. Apalagi mata banyak manusia pun banyak yang melihat itu, dan mengamini. Ditambah lagi dengan keadaan banyak orang yang dekat dengan Allah tapi dunianya tidak bagus. Seakan-akan berlaku keyakinan sebaliknya, kalau dekat dengan Allah, ya dunia pasti tidak bagus.
Pertanyaannya kan harusnya, bagaimana bisa begitu? Bagaimana mereka yang tidak dekat dengan Allah lalu sakses, sedang yang dekat dengan Allah lalu tidak sakses (baca: kaya dan tidak kaya, senang dan tidak senang, sejahtera dan tidak sejahtera, bahagia, dan tidak bahagia). Jangan-jangan salah rumusan? Harusnya, semakin dekat dengan Allah, semakin senang. Kalau terjadi keadaan-keadaan sebaliknya, harus dicari penyebabnya yang jujur, kenapa sampe itu terjadi.

Contoh, ada yang merasa sudah dekat dengan Allah. Habis-habisan dia ibadah shalat malam. Habis-habisan dia bersedekah. Habis-habisan dia beramal. Namun, penyakitnya satu. Yakni dia mengawali usahanya lewat jual tanah orang tuanya, tanpa izin dan restu orang tuanya. Tanah yang tidak halal inilah yang mengantarkan dia kemudian sakses. Lah, menurut konsepsi tauhid, yang begini ini, bukan kesuksesan. Dia malah menderita dua kali. Dan itu minimal. Yang pertama, Allah akan menarik kembali hartanya seukuran yang diambil dari orang tuanya. Bahkan, diambil menurut harga terkini tergantung kapan diambilnya. Harga lama dengan harga baru, beda dong. Iya kan? Nah, keadaan ini saja sudah jadi akan membuat dia minus. Yang kedua, Allah akan menarik seluruh buah yang tumbuh dari biji yang haram tersebut sehingga dia sebenernya tidak lagi punya apa-apa.

Di kajian ini, Wisatahati berusaha mendorong manusia untuk meraih dunia yang memang disediakan Allah. Tinggal cara mengambilnya saja yang benar, dan pemanfaatannya kelak yang benar juga. Kalau mereka yang tidak dekat dengan Allah saja ”berhasil” mendapatkan dunianya, mengapa bagi yang dekat dengan Allah lalu tidak berhasil mendapatkan dan menundukkan dunia?

0 komentar: