The Five Great Moments; Bicara Tentang 5 Shalat Waktu

The Five Great Moments; Bicara Tentang 5 Shalat Waktu.

Salah satu waktu mustajab adalah selepas shalat. Harusnya, di tengah perubahan dan perbaikan kehidupan yang begitu kita inginkan, dan di tengah upaya kita lkita, harusnya, momen-momen selepas shalat, tidak kita sia-siakan. Sehabis shalat, kita bisa berdoa habis-habisan berharap Allah mengabulkan doa kita. Apalagi shalat itu sendiri juga merupakan doa.

Tapi apa boleh buat. Lantaran ketiadaan ilmu, menyebabkan manusia banyak yang mengabaikannya. Momen shalat menjadi momen yang tidak begitu dirindukan. Tidak jarang malah merasa menjadi beban ketika waktu shalat datang. Seakan mengurangi jam-jamnya berikhtiar mencari dunia.

Salah satu nasihat dari seorang ulama Banten, Ust. Haji Syamsuri, ketika Yusuf Mansur muda mengadu padanya yang sedang bermasalah: ”Kalau lagi bermasalah, jegat waktu!”. Maksudnya, jangan tunggu ashar datang, baru shalat. Atau jangan tunggu kuping dengar azan. Kalau bisa, begitu maksud ulama tersebut, sebelum waktu shalat datang, kita sudah berada di atas sajadah. Kita yang menunggu waktu shalat, sebab kita yang seharusnya butuh kehadiranya! Subhaanallaah!

Nasihat yang lain, datang dari ulama betawi, Mu’allim Syafii Hadzami almarhum. Beliau ini tahu bahwa Yusuf Mansur adalah buyut dari seorang ulama besar betawi tempoe doeloe, KH. Muhammad Mansur atau yang dikenal dengan Guru Mansur Jembatan Lima. Dan beliau pun tahu, bahwa Yusuf Mansur ini sedari kecil hidup dalam lingkungan pendidikan agama yang baik. Sekolah di sekolah agama, dan banyak mengaji. Tapi itu tidak menghalangi Mu’allim bertanya tentang shalatnya Yusuf mansur. Mu’allim ketika mendengar Yusuf Mansur mengadu, malah bukan bertanya tentang sudah sejauh apa solusi yang ditempuh dan dicari. Bukan. Mu’allim malah bertanya, bagaimana shalatnya?

Yusuf Mansur muda sempat kaget. Mengapa urusan shalat ditanyakan? Sejenak dia bertanya kepada dirinya sendiri, apa hubungannya? Tapi dengan kepahamannya, dia menyadari kesalahannya. Solusi jauh-jauh dicari, tapi Allah Yang Maha Memberi Solusi, ga dicari. Padahal, solusi apapun yang dicari, kalau Allah tidak berkenan, maka Allah tidak akan memberikan; Man dzalladzii yasyfa’u ’indahuu illaa bi-idznihii, siapa yang dapat memberikan pertolongan kecuali setelah Allah mengizinkan? (Qs. al Baqarah: 255). Dalam bahasa kalimat lain, pertolongan siapapun tidak akan pernah berguna bila Allah tidak senang kepada kita, tidak meridhai kita, dan tidak mengizinkan pertolongan itu menjadi berguna.

Dan Yusuf Mansur muda sadar, shalat kan bukti syukur dan cinta kepada Allah. Maka, ketika seseorang tidak memperhatikan shalat, sama saja dia tidak memperhatikan hal-hal yang bisa mengantarkannya kepada kebersyukuran. Dengan sendirinya, bila seseorang tidak bersyukur, maka nikmat akan dicabut. Baik berangsur-angsur, atau seketika; La-in syakartum la-aziidan nakum wala-in kafartum inna ’adzaabii lasyadiid, siapa yang bersyukur maka Aku akan tambahkan nikmat-Ku, dan siapa yang lupa diri maka sesungguhnya azab-Ku teramat pedih. (Qs. Ibraahiim: 7)
Apalagi Rasul mengatakan, shalat itu adalah tiang agama, pondasi kehidupan. Ibarat rumah, dia akan menjadi rapuh, manakala tiang-tiangnya, pondasinya, kurang kuat. Lemah. Begitu juga kehidupan kita. Shalat menjadi pondasi dasar kehidupan kita.
Pelan-pelan Yusuf Mansur muda membetulkan dan memperbaiki shalatnya. Hasilnya? Mengagumkan! Beriringan dengan perbaikan shalat, kehidupannya pun membaik. Sekali lagi, benarlah Allah bilang, bahwa siapa yang bersyukur akan ditambah nikmat dari-Nya.

Ketika Yusuf Mansur merasakan perubahan dari memperbaiki shalat, ilmu dan pengalaman ini dia bagi kepada orang lain yang kepengen berubah hidupnya yang kepengen mendapatkan perbaikan hidup. Tidak jarang, terhadap yang datang konseling; baik konseling pribadi, maupun konseling yang sifatnya massal, Yusuf Masur menawarkan komitmen untuk ”makan resep” selama 7 hari dulu, yang resepnya ini sederhana sekali. Yaitu memperbaiki shalat. Baru setelah itu, melangkah pada resep-resep yang lain, di hari ke-8 dan seterusnya.

Konsep shalat tepat waktu, berjamaah, dan ditambah dengan memperhatikan sunnah-sunnahnya (shalat-shalat sunnah dan bacaan/zikir-zikir ba’da shalatnya), menjadi sesuatu yang ingin disampaikan dan dipasarkan lewat Kajian The Five Great Moments ini.

Mudah-mudahan Allah menjadikan kita dan keluarga kita, adalah orang-orang yang ahli mengerjakan shalat, dan benar shalatnya. Termasuk mampu memanfaatkan shalat sebagai bekal menjalani hidup dan kehidupan ini. ”Qul li’ibaadiyalladziina aamanuu yuqiimush shalaah.. Katakan kepada orang-orang yang beriman, untuk mengerjakan (baca: memperbaiki, merapihkan, menyempurnakan) shalatnya...”. (Qs. Ibraahiim: 31).

Klik posting lama untuk melihat isi yang lama

Semoga bermanfa'at di dunia dan akhirat. Amin